“Menjejak”, Kisah Keberanian Melangkah dalam Ujian Tugas Akhir Minat Tari

Program Studi Seni Pertunjukan, Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni kembali menghadirkan karya terbaik mahasiswa melalui Ujian Pertunjukan Tugas Akhir Minat Tari. Pada kesempatan ini, mahasiswa teruji Muhammad Riski akan menampilkan karya tari berjudul “Menjejak”, sebuah pertunjukan yang sarat makna tentang perjuangan, harapan, dan keberanian menapaki masa depan.

Karya ini mengangkat kisah seorang anak yang tumbuh dalam keterbatasan hidup dan berasal dari keluarga broken home, namun tetap menyimpan tekad yang kuat untuk melangkah. Di tengah sunyi dan kesederhanaan, ia percaya bahwa setiap jejak yang diciptakan hari ini akan menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Menjejak adalah kisah tentang keberanian melangkah, tentang mimpi yang tumbuh dari tanah paling sederhana, dan tentang bagaimana jejak kaki kecil mampu mengubah arah kehidupan. Melalui gerak tari yang ekspresif dan emosional, pertunjukan ini diharapkan mampu menyentuh perasaan penonton sekaligus menghadirkan refleksi tentang kekuatan mimpi dan keteguhan hati.

Pertunjukan akan dilaksanakan pada Rabu, 16 Juli 2025, pukul 20.00 WIB, bertempat di Gedung Utama Taman Budaya Kota Medan. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum, serta dapat disaksikan secara langsung melalui Instagram Seni Pertunjukan.

Didukung oleh tim produksi dan para penari yang solid, karya ini menjadi wujud pencapaian artistik mahasiswa dalam bidang tari sekaligus representasi semangat generasi muda untuk terus melangkah dan meninggalkan jejak berarti.Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan yang penuh makna dan inspirasi ini.

Pementasan “BUI” Hadirkan Pergulatan Manusia di Balik Jeruji Besi

Program Studi Seni Pertunjukan, Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni kembali menghadirkan karya terbaik mahasiswa melalui Ujian Pertunjukan Tugas Akhir Minat Pemeranan dan Penyutradaraan. Kali ini, mahasiswa teruji Ika Fitriana dan Azis Muslim mempersembahkan pementasan naskah “BUI” karya Akhudiat, sebuah drama yang sarat kritik sosial, emosi, dan pergulatan kemanusiaan.

Mengusung slogan “BUI semakin terpenjara”, pertunjukan ini menjadi ruang refleksi tentang kebebasan, keadilan, dan nasib manusia di balik jeruji besi. Melalui konflik yang kuat dan suasana dramatik yang intens, penonton akan diajak menyaksikan bagaimana penjara bukan hanya membatasi tubuh, tetapi juga harapan, martabat, dan rasa kemanusiaan.

Sinopsis:
Dua tahanan dalam satu sel penjara, salah satu di antaranya sudah lama mendekam, dan yang lainnya baru masuk ke jeruji besi, mereka memiliki kesamaan yakni ingin mempertahankan keadilan, mendapatkan hak mereka sebagai seorang manusia, dan keadilan di ruang persidangan, membuat mereka ingin keadilan itu ada dalam jeruji besi dan segera terlaksana.

Bui adalah kebebasan yang terenggut
Bui adalah sistem yang semena-mena
Bui adalah hukum yang tebang pilih
Bui adalah cinta yang membentur kenyataan
Bui adalah hidup yang menggantung dan mati yang menyiksakan senar nafas
Bui adalah ambang hidup, kabur dan penuh perih.

Pertunjukan akan dilaksanakan pada Selasa, 08 Juli 2025, pukul 16.00 WIB, bertempat di Gedung Utama Taman Budaya Kota Medan. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum, serta dapat disaksikan secara langsung melalui Instagram Seni Pertunjukan.

Didukung oleh tim produksi yang solid dari unsur sutradara, artistik, musik, lighting, tata rias, kostum, hingga dokumentasi, pementasan ini menjadi bukti kualitas dan kreativitas mahasiswa Prodi Seni Pertunjukan.

Jangan lupa datang dan saksikan, karena dalam “BUI”, yang terpenjara bukan hanya tubuh, tetapi juga keadilan itu sendiri.