Mahasiswa Minat Tari Meraih Juara 3 Lomba Monolog

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Seni Pertunjukan, Universitas Negeri Medan (UNIMED). Kali ini, mahasiswa peminatan tari, Roh Aristri Zega, berhasil meraih Juara 3 dalam ajang lomba monolog, sebuah kompetisi yang menuntut kemampuan ekspresi, penghayatan karakter, serta kekuatan artistik dalam seni pertunjukan.

Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Seni Pertunjukan UNIMED memiliki kompetensi yang luas dan mampu menunjukkan kualitas terbaik tidak hanya pada bidang tari, tetapi juga dalam cabang seni pertunjukan lainnya, termasuk teater dan monolog. Melalui penampilan yang penuh penghayatan, teknik vokal yang kuat, serta interpretasi tokoh yang mendalam, Roh Aristri Zega mampu memukau dewan juri dan penonton.

Capaian ini juga mencerminkan hasil dari proses pembelajaran yang terintegrasi di lingkungan akademik Prodi Seni Pertunjukan, di mana mahasiswa didorong untuk mengembangkan kemampuan artistik secara multidisipliner. Keterlibatan mahasiswa peminatan tari dalam lomba monolog menunjukkan fleksibilitas dan keluasan wawasan seni yang menjadi ciri khas pendidikan seni pertunjukan.

Prestasi yang diraih oleh Roh Aristri Zega diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berani berkarya, mengeksplorasi potensi diri, dan berkompetisi dalam berbagai ajang seni di tingkat regional maupun nasional.

Selamat kepada Roh Aristri Zega atas pencapaian yang membanggakan ini. Semoga prestasi ini menjadi langkah awal menuju keberhasilan-keberhasilan berikutnya dan semakin mengharumkan nama Universitas Negeri Medan.

“Mata Sunyi”, Drama tentang Cinta, Luka, dan Kesunyian yang Dipendam

Program Studi Seni Pertunjukan, Jurusan Sendratasik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan kembali menggelar Ujian Tugas Akhir Strata-1 Minat Pemeranan melalui pementasan naskah “Mata Sunyi” karya Marhalim Zaini, yang akan dibawakan oleh mahasiswa teruji Jaka Andika.

Pertunjukan ini mengisahkan Si Buta, seorang tokoh yang hidup dalam trauma masa lalu dan merasa dirinya hanya menjadi beban bagi sang istri. Keyakinan bahwa pernikahan mereka lahir karena balas jasa membuat hubungan keduanya dipenuhi kesunyian selama bertahun-tahun, meski sang istri terus berusaha meyakinkan bahwa cintanya adalah tulus.

Pementasan akan dilaksanakan pada Rabu, 11 Februari 2026, pukul 20.00 WIB, bertempat di Gedung Tari Taman Budaya Kota Medan. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum.

Jangan lewatkan pertunjukan yang menghadirkan kisah cinta, luka, dan kesunyian dalam satu panggung.